Cerita ini berasal dari desa di bawah
kaki Gunung Slamet. Seorang gadis berusia 13 tahun bernama Siti. Siti hanya
tinggal dengan ayahnya yang bekerja sebagai buruh tani yang penghasilannya tidak
seberapa, sehingga Siti harus juga membantu ayahnya. Siti berjualan tas karung
di O. W. Guci setiap sepulang sekolah. Siti adalah gadis yang beruntung yang
bisa melanjutkan sekolah dan mendapat izin dari orang tuanya.
Siti
mempunyai sahabat yang bernama Tina. Tina tidak bisa melanjutkan sekolahnya
karena ia tidak diizinkan oleh neneknya. Tina hidup hanya dengan neneknya. Tina
menganggap neneknya sebagai ayah dan ibunya. Tapi neneknya mengatakan sekolah
tidak penting, lebih baik bekerja dan mendapat uang banyak.
Setiap
pulang sekolah Siti menemui Tina, mereka berjualan bersama, berkeliling di O.
W. Guci.
“ Bu.. Beli Tasnya Bu…” Siti dan Tina menawarkan tasnya.
Walaupun Tina tidak bersekolah, Tina selalu berusaha mendapat pendidikan. Siti
selalu mengajarkan pelajarannya kepada sahabatnya Tina. Seusai berjualan, Siti
dan Tina menyetorkan uang hasilnya kepada juragan tas, karena mereka tidak
membuatnya sendiri. Setelah itu mereka pulang. Saat di perjalanan pulang,
mereka seringkali mengobrol. “ Siti… Nyong pengin nglanjutna sekola “ Tina
memulai pembicaraan. “ Ya Tin… Nyong ngarti, tapi kowen aja khawatir nyong pan
berusaha nyadaraken masyarakat pendidikan kanggo bocah wadon kuwe penting. “ Siti dengan semangatnya. “
Ya wis Siti…. Nyong balik ndisiti “ Tina mengakhiri pembicaraan.
Dengan keadaan sahabatnya yang tidak diizinkan sekolah, Siti bertekad untuk bisa menyadarkan masyarakat, yang masih tidak mengizinkan anak gadisnya bersekolah dan Siti berjanji akan membawa Tina untuk melanjutkan sekolah kembali.
Dengan keadaan sahabatnya yang tidak diizinkan sekolah, Siti bertekad untuk bisa menyadarkan masyarakat, yang masih tidak mengizinkan anak gadisnya bersekolah dan Siti berjanji akan membawa Tina untuk melanjutkan sekolah kembali.
Sesampainya Siti di rumah, Siti memberikan uang upah jualan kepada ayahnya. Tapi
ayahnya selalu menyuruhnya untuk menabung. Siti selalu mematuhi semua perkataan
ayahnya. Ketika Siti dan ayahnya duduk, seorang pria datang dan mengatakan bahwa akan dilaksanakan
acara ruwatan satu bulan mendatang dan menyuruh Siti untuk menari apa saja demi
mengisi acara. Setelah itu pria itu langsung
pergi.
Kemudian ayah Siti langsung menyetujui
niat Siti yang sangat besar. Ayah Siti langsung pergi menemui Pak Kepala Desa.
Siti sangat bahagia ayahnya mendukungnya. Setelah kembali, ayahnya memberitahu
bahwa Pak Kepala Desa tidak mengizinkannya, karena alas an yang sama dengan
masyarakat.
Keesokan
harinya, setelah Siti berjualan dengan Tina, Siti menceritakan semua yang telah
terjadi kepada Tina. Tina mengusulkan bahwa Siti harus menemui Pak Kepala Desa
langsung. Lalu, Siti mengajak Tina dengan semangatnya. Tina sangat berharap
niat Siti terwujud. Dengan terwujudnya niat Siti, terwujud juga impian Tina
untuk melanjutkan sekolah.
Siti dan Tina pun langsung pergi kerumah kepala desa. Sampainya di teras, Siti melihat seorang wanita, dan dia mennyakan Pak Kepala Desa. Akan tetapi, Pak Kepala Desa telah pergi. Lalu, Siti dan Tina pulang dengan rasa sedih. Tetapi mereka tetap bisa tersenyum. “Ngesuk maning Tin, dwek mesti sabar. “ Siti dengan bijaksana. “ Iya Sit… Nyong tetep sabar kok…. “ jawab Tina.
Siti dan Tina pun langsung pergi kerumah kepala desa. Sampainya di teras, Siti melihat seorang wanita, dan dia mennyakan Pak Kepala Desa. Akan tetapi, Pak Kepala Desa telah pergi. Lalu, Siti dan Tina pulang dengan rasa sedih. Tetapi mereka tetap bisa tersenyum. “Ngesuk maning Tin, dwek mesti sabar. “ Siti dengan bijaksana. “ Iya Sit… Nyong tetep sabar kok…. “ jawab Tina.
Keesokan
harinya, setelah berjualan, Siti kembali mengajak Tina untuk menemui Pak Kepala
Desa. Dan seperti biasa pula Tina sangat bersemangat .Sesampainya diteras
mereka bertemu kembali dengan wanita kemarin.
“ Nggeti kepala desa nok?, Donge mau,
yen mau tah bisa ketemu, kie tah wis lunga maning.” Wanita itu.
“Eh nggeh pun ngenjang malih mboten nopo-nopo “ jawab Siti lalu berpamitan.
Siti dan Tina kembali pulang dengan sedih tetapi mereka tetap tersenyum.
“Eh nggeh pun ngenjang malih mboten nopo-nopo “ jawab Siti lalu berpamitan.
Siti dan Tina kembali pulang dengan sedih tetapi mereka tetap tersenyum.
Keesokan
harinya. Kali ini Siti datang sendiri, tidak bersama Tina. Siti pergi ke rumah kepala desa sepulang sekolah.
Siti tidak menyerah demi niat dan janjinya yang besar. Siti berhasil menemui
kepala desa. Siti berkata dan membujuknya bahwa pendidikan bagi seorang wanita
itu penting. Kita itu mempunyai pahlawan wanita yang menjunjung para wanita.
Siti berbicara banyak tentang perjuangan R.A Kartini. Lalu Pak Kepala Desa
tidak mengizinkannya. Tapi setelah menunjukkan pidatonya, kepala desa
mengizinkannya.
Pidato
Siti menjadi acara kedua setelah upacara. Dan hari yang ditunggu-tunggu tiba.
Siti mengguncang penonton hingga meneteskan air mata.
Akhirnya,
Siti bisa menyadarkan para masyarakat dan memenuhi janjinya. Sejak saat itu,
masyarakat mulai mengizinkan anak gadisnya untuk melanjutkan sekolah dengan
pidato yang berjudul “Perjuangan R.A Kartini”. Yang telah dibawakan oleh
seorang gadis yang pantang menyerah demi cita-citanya yang sangat besar.
Oleh
: Lailatul Inayah (Kelas VIII A,
SMP N 1 Bojong)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar