Jumat, 14 Oktober 2016

Siti dan Pidato “Perjuangan R. A. Kartini”

Cerita ini berasal dari desa di bawah kaki Gunung Slamet. Seorang gadis berusia 13 tahun bernama Siti. Siti hanya tinggal dengan ayahnya yang bekerja sebagai buruh tani yang penghasilannya tidak seberapa, sehingga Siti harus juga membantu ayahnya. Siti berjualan tas karung di O. W. Guci setiap sepulang sekolah. Siti adalah gadis yang beruntung yang bisa melanjutkan sekolah dan mendapat izin dari orang tuanya.
                 Siti mempunyai sahabat yang bernama Tina. Tina tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena ia tidak diizinkan oleh neneknya. Tina hidup hanya dengan neneknya. Tina menganggap neneknya sebagai ayah dan ibunya. Tapi neneknya mengatakan sekolah tidak penting, lebih baik bekerja dan mendapat uang banyak.
                 Setiap pulang sekolah Siti menemui Tina, mereka berjualan bersama, berkeliling di O. W. Guci.
 “ Bu.. Beli Tasnya Bu…” Siti dan Tina menawarkan tasnya. Walaupun Tina tidak bersekolah, Tina selalu berusaha mendapat pendidikan. Siti selalu mengajarkan pelajarannya kepada sahabatnya Tina. Seusai berjualan, Siti dan Tina menyetorkan uang hasilnya kepada juragan tas, karena mereka tidak membuatnya sendiri. Setelah itu mereka pulang. Saat di perjalanan pulang, mereka seringkali mengobrol. “ Siti… Nyong pengin nglanjutna sekola “ Tina memulai pembicaraan. “ Ya Tin… Nyong ngarti, tapi kowen aja khawatir nyong pan berusaha nyadaraken masyarakat pendidikan kanggo bocah wadon kuwe penting. “ Siti dengan semangatnya. “ Ya wis Siti…. Nyong balik ndisiti “ Tina mengakhiri pembicaraan.
Dengan keadaan sahabatnya yang tidak diizinka
n sekolah, Siti bertekad untuk bisa menyadarkan masyarakat, yang masih tidak mengizinkan anak gadisnya bersekolah dan Siti berjanji akan membawa Tina untuk melanjutkan sekolah kembali.
Sesampainya Siti di rumah, Siti memberikan uang upah jualan kepada ayahnya. Tapi ayahnya selalu menyuruhnya untuk menabung. Siti selalu mematuhi semua perkataan ayahnya. Ketika Siti dan ayahnya duduk, seorang pria datang dan mengatakan bahwa akan dilaksanakan acara ruwatan satu bulan mendatang dan menyuruh Siti untuk menari apa saja demi mengisi acara. Setelah itu pria itu langsung pergi.
                 “Abah… Siti mboten bade nari… “ Siti memulai pembicaraan. “ Lha bisane….? “ tanya ayah Siti, bingung. “Siti pengin pidato sing isine perjuangan R.A Kartini kanggo nyadaraken masyarakat, pendidikan niku penting kangge lare estri. " jawab Siti.
Kemudian ayah Siti langsung menyetujui niat Siti yang sangat besar. Ayah Siti langsung pergi menemui Pak Kepala Desa. Siti sangat bahagia ayahnya mendukungnya. Setelah kembali, ayahnya memberitahu bahwa Pak Kepala Desa tidak mengizinkannya, karena alas an yang sama dengan masyarakat.
                 Keesokan harinya, setelah Siti berjualan dengan Tina, Siti menceritakan semua yang telah terjadi kepada Tina. Tina mengusulkan bahwa Siti harus menemui Pak Kepala Desa langsung. Lalu, Siti mengajak Tina dengan semangatnya. Tina sangat berharap niat Siti terwujud. Dengan terwujudnya niat Siti, terwujud juga impian Tina untuk melanjutkan sekolah.
Siti dan Tina pun langsung pergi kerumah kepala desa. Sampainya di teras, Siti melihat seorang wanita, dan dia mennyakan Pak Kepala Desa. Akan tetapi, Pak Kepala Desa telah pergi. Lalu, Siti dan Tina pulang dengan rasa sedih. Tetapi mereka tetap bisa tersenyum. “Ngesuk maning Tin, dwek mesti sabar. “ Siti dengan bijaksana. “ Iya Sit… Nyong tetep sabar kok…. “
jawab Tina.
                 Keesokan harinya, setelah berjualan, Siti kembali mengajak Tina untuk menemui Pak Kepala Desa. Dan seperti biasa pula Tina sangat bersemangat .Sesampainya diteras mereka bertemu kembali dengan wanita kemarin.
“ Nggeti kepala desa nok?, Donge mau, yen mau tah bisa ketemu, kie tah wis lunga maning.” Wanita itu.
“Eh nggeh pun ngenjang malih mboten nopo-nopo “ jawab Siti
lalu berpamitan.
Siti dan Tina kembali pulang dengan sedih tetapi mereka tetap tersenyum.
                 Keesokan harinya. Kali ini Siti datang sendiri, tidak bersama Tina. Siti pergi ke rumah kepala desa sepulang sekolah. Siti tidak menyerah demi niat dan janjinya yang besar. Siti berhasil menemui kepala desa. Siti berkata dan membujuknya bahwa pendidikan bagi seorang wanita itu penting. Kita itu mempunyai pahlawan wanita yang menjunjung para wanita. Siti berbicara banyak tentang perjuangan R.A Kartini. Lalu Pak Kepala Desa tidak mengizinkannya. Tapi setelah menunjukkan pidatonya, kepala desa mengizinkannya.
                 Pidato Siti menjadi acara kedua setelah upacara. Dan hari yang ditunggu-tunggu tiba. Siti mengguncang penonton hingga meneteskan air mata.

                 Akhirnya, Siti bisa menyadarkan para masyarakat dan memenuhi janjinya. Sejak saat itu, masyarakat mulai mengizinkan anak gadisnya untuk melanjutkan sekolah dengan pidato yang berjudul “Perjuangan R.A Kartini”. Yang telah dibawakan oleh seorang gadis yang pantang menyerah demi cita-citanya yang sangat besar.

Oleh : Lailatul Inayah (Kelas VIII A, SMP N 1 Bojong)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar